Kesenian Jedor Golden Star dengan Varian Baru   Kesenian Jedor Golden Star dengan Varian Baru
  <p><strong>Sendangagung</strong>- Berbagai Kesenian, khususnya budaya lokal seringkali menjadi pusat perhatian dunia. Tetapi ironisnya, justru banyak dijumpai masyarakat pemilik seni budaya itu sendiri malah mengabaikan dan cenderung meniru budaya asing tanpa berpikir keberlangsungan kesenian tradisonal yang memiliki kandungan sejarah sangat tinggi. Sehingga dengan berbagai tantangan yang ada, tidak banyak kesenian tradisional yang mampu bertahan hingga pada era sekarang ini. Dan salah satu kesenian tradisional yang mampu bertahan dengan segala kesulitannya adalah kesenian &ldquo;Jedor&rdquo; dari Sendangagung.</p><p>Jedor adalah kesenian tradisional Sendangagung yang bernafaskan Islam. Kesenian Jedor sendiri ada 3 macam, yaitu : Jedor Jemblung, Jedor Janjan, dan Jedor Berjanji. Jedor Barjanji biasanya disampaikan dalam berbagai bentuk, seperti sholawatan sebagai bagian dari syiar agama Islam. Ragamnya meliputi parikan, wangsalan, lafal dzikir, dan lafal doa. Muatan nilai yang dikandungnya adalah dakwah. Fungsinya untuk menyampaikan wawasan ketuhanan, mengukuhkan ikatan sosial, menumbuhkan kesadaran kesejarahan Islam, dan memberikan hiburan.</p><p>Dalam literature sejarah, Jedor mulai berkembang sejak Agama Islam masuk ke Pulau Jawa. Tetapi kini kesenian Jedor mulai terkikis kemajuan zaman. H.Milkan dari Group Jedor Golden Star mengatakan, bahwa &ldquo; Kesenian Jedor mulai tergerus oleh zaman&nbsp; dikarenakan adanya ketidak pedulian masyarakat untuk regenerasi guna menjaga kelestarian kesenian tersebut, pelaku kesenian yang terbatas, serta tingginya minat masyarakat terutama generasi mudanya terhadap musik modern&rdquo;</p><p>&ldquo; Group Jedor Golden Star yang berdiri sekitar tahun 1984 ini, merupakan salah satu Group kesenian Jedor yang masih bisa kita jumpai di Desa Sendangagung. Group yang diketua oleh H.Milkan ini telah mengalami proses yang begitu panjang. Dengan personil yang berjumlah sekitar 20-an, Golden Star mulai eksis sekitar tahun 1984 dengan wajah orisinal mereka layaknya jedor-jedor yang lain, ( jumlah alat, jenis alat yang digunakan maupun pakem/aturan berkesenian jedor seperti Membaca Sholawat Barjanji, parikan, wangsalan, lafal dzikir, dan lafal doa dengan intonasi lagu dan nada-nada khas Jedor ) masih seperti aslinya.&rdquo; Begitu papar H.Milkan</p><p>&ldquo; Kemudian pada tahun 1996 atas prakarsanya pula Golden Star mengalami penambahan alat berupa&nbsp; gamelan&nbsp; dan mampu memberi varian warna baru dengan tidak meninggalkan pakem/aturan Jedor itu sendiri hingga tahun 2007&rdquo; Imbuhnya</p><p>Dengan ke-khas-an nya, mampu menyedot perhatian public termasuk Pemerintah Daerah Lamongan. Sehingga &ldquo;pada tahun 2007 diminta oleh Pemda Lamongan untuk mengikuti Pawai Ta&rsquo;aruf MTQ tingkat propinsi Jatim di Blitar, kemudian bersama Jedor Warna Baru tahun 2009 di Jember dan 2011 di Madiun. terakhir tahun 2010 bersama Jedor Warna Baru diundang oleh Pemda Lamongan untuk Pawai Ta&rsquo;aruf dalam Rangka Menyambut Tahun Baru Hijriyah&rdquo; tandasnya.</p><p>&ldquo;Sayangnya Group Golden Star ini mengalami kevakuman hingga 2 tahun, mulai 2014 hingga 2015, dan berharap tahun 2016 ini mencoba dibangkitkan kembali Group Jedor ini&rdquo; tukasnya. (el)</p>