Petani Semerek Bergerak Lawan Hama Tikus, Penyuluhan Pertanian Tekankan Pengendalian Massal dan Aman Lingkungan   Petani Semerek Bergerak Lawan Hama Tikus, Penyuluhan Pertanian Tekankan Pengendalian Massal dan Aman Lingkungan
  

Sendangagung — Ancaman hama tikus yang semakin meresahkan petani mendorong Pengurus Kelompok Tani (Poktan) Trisno Karyo Dusun Semerek, Desa Sendangagung, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, menggelar Penyuluhan Pertanian “Gerakan Pengendalian Tikus” di Balai Dusun Semerek, Kamis (7/5/2026).

Kegiatan ini menghadirkan Mastur, SP, MMA, Koordinator POPT (Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan) Kabupaten Lamongan sebagai narasumber utama. Ia didampingi AR Fajar Alamsyah, POPT Kecamatan Paciran, serta Heny Istianto, SP, Penyuluh Pertanian Lapang (PPL) BPP Paciran, yang seluruhnya berasal dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Desa Sendangagung yang diwakili oleh Sekretaris Desa Ah. Suaidi Muharrom, Ketua Gapoktan, pengurus Poktan Sumber Rejeki dan Sido Subur, serta mayoritas anggota Poktan Trisno Karyo.

Acara dibuka langsung oleh Kholiq Idris selaku Ketua Poktan Trisno Karyo. Dalam sambutannya, ia menyampaikan harapan agar kegiatan ini mampu memberikan solusi nyata atas meningkatnya serangan tikus yang mulai mengancam hasil panen petani.

Sementara itu, Sekretaris Desa Sendangagung Ah. Suaidi Muharrom yang mewakili Kepala Desa turut menyoroti keresahan petani terkait maraknya hama tikus di area pertanian. Ia juga mengingatkan masyarakat tentang bahaya penyakit yang ditularkan tikus, salah satunya leptospirosis, yang dapat mengancam kesehatan warga.

Selain membahas persoalan pertanian, pemerintah desa juga menyampaikan informasi tambahan terkait program DT-SEN dan bantuan sosial. Warga diimbau untuk secara mandiri mengecek data bantuan melalui laman resmi cekbansos.kemensos.go.id.

Memasuki sesi utama, pemaparan dari Mastur mendapat perhatian serius dari peserta. Dengan gaya penyampaian yang santai namun lugas, ia menjelaskan pola kehidupan tikus, cara berkembang biak, hingga metode serangan hama terhadap tanaman pertanian.

Peserta tampak terkejut ketika mengetahui kecepatan reproduksi tikus yang dinilai menjadi salah satu penyebab ledakan populasi di area persawahan. Diskusi berlangsung aktif dengan berbagai pertanyaan dari petani terkait cara penanganan yang efektif.

Pada sesi akhir, Mastur menekankan bahwa pengendalian tikus tidak akan berhasil apabila dilakukan secara individual. Menurutnya, gerakan pengendalian harus dilakukan secara serentak dan bersama-sama oleh seluruh petani agar populasi tikus dapat ditekan secara maksimal.

“Tidak mungkin berhasil kalau dilakukan sendiri-sendiri. Pengendalian tikus harus kompak dan serempak,” tegasnya di hadapan peserta.

Ia juga memberikan edukasi mengenai penggunaan pestisida yang benar dan aman. Petani diingatkan agar tidak menggunakan pestisida secara sembarangan, terlebih mencampur berbagai jenis pestisida tanpa aturan yang jelas karena dapat merusak lingkungan dan membahayakan kesehatan.

Kegiatan penyuluhan kemudian ditutup dengan doa bersama dan makan tumpeng sebagai bentuk tasyakuran sekaligus harapan agar musim panen tahun ini diberikan kelancaran dan hasil yang melimpah. Suasana kebersamaan tampak terasa hangat di antara para petani yang hadir.

Melalui kegiatan ini, para petani berharap gerakan pengendalian tikus dapat menjadi langkah nyata untuk menjaga produktivitas pertanian sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya pertanian yang sehat dan ramah lingkungan.